Sabtu, 23 Maret 2013

Sejarah Kota TanjungPinang


Tanjungpinang adalah sebuah kota di ujung selatan Pulau Bintan,dan berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan kapal laut dari singapura dan 3 jam dari Johor-Malaysia.Kota yang sarat akan sejarah, budaya dan adat istiadat Melayu. Kondisi Geografisnya yang terdiri dari beberapa pulau merupakan keistimewaan tersendiri bagi Kota Tanjungpinang. Salah satu pulau yang sarat dengan sejarah adalah Pulau Penyengat, Pulau ini tidak terlalu besar, hanya 3.5 Km 2 akan tetapi di Pulau ini terdapat banyak peninggalan berupa potensi cagar budaya dengan wujud bangunan-bangunan arsitektural, makam, dan Situs. Disisi lain Pulau Penyengat adalah tempat kelahiran Pahlawan Nasional Bahasa Raja Ali Haji yang terkenal dengan Gurindam 12-nya ini terletak pada lokasi yang sangat startegis yaitu berada di sebelah barat Kota Tanjungpinang dan untuk kesana dapat dilewati dengan jalur transportasi laut tak lebih dari 15 menit.

Dahulu Pulau yang berhadapan dengan Kuala Sungai Riau ini selalu menjadi tempat pemberhentian para pelaut yang lewat di kawasan ini terutama untuk mengambil air tawar. Konon suatu ketika para pelaut yang sedang mengambil air tawar tersebut diserang oleh sejenis lebah yang disebut Penyengat. Akibat serangan lebah tersebut, jatuh korban jiwa dari pelaut. Sejak saat itulah pulau ini dinamakan Penyengat Indera Sakti dan selanjutnya lebih dikenal dengan Pulau Penyengat sampai sekarang. Karena letaknya yang cukup strategis bagi pertahanan, Pulau Penyengat dijadikan Pusat Kubu pertahanan Kerjaan Riau oleh Raja Haji yang Dipertuan Muda Riau IV (termasyhur dengan gelar Raja Haji Syahid Fisabilillah/Marhum Teluk Ketapang) ketika melawan Belanda pada tahun 1782-1784.

Pada tahun 1803 Pulau Penyengat yang telah di bina dari dari sebuah pusat pertahanan menjadi negeri dengan segala fasilitas yang memadai, dijadikan mahar dari Baginda Raja Sultan Mahmud kepada Raja Hamidah atau Engku Puteri, anak seorang yang dipertuan Riau yang terkemuka yaitu Raja Haji Fisabilillah atau Marhum Teluk Ketapang. Selanjutnya pulau Penyengat menjadi tempat kediaman resmi Para Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau Lingga, sementara Sultan (Yang Dipertuan Besar) berkedudukan di Daik-Lingga.

Diantara beberapa peniggalan Sultan Riau yang terdapat di Pulau Penyengat sebagai bukti sejarah pada masa lampau yaitu :

* Masjid Agung Sultan Riau
* Empat buah komplek makam Raja
* Dua buah bekas istana dan beberapa gedung lama, dan
* Benteng pertahanan, sumur dan taman.

Kota Tanjungpinang dengan posisinya yang agak tersuruk, terlindung dari pengaruh cuaca buruk dan alur laut yang cukup dalam merupakan tempat yang ideal bagi armada pelayaran untuk berlindung dari serangan badai, atau untuk berlabuh sementara mengambil air dan perbekalan. Menjelang berdirinya Kerajaan Riau (1722), Tanjungpinang telah menjadi kubu pertahanan Raja Kechik dalam perang saudara merebutkan tahta Kerajaan Johor melawan Tengku Sulaiman dan sekutunya. Setelah berdiri kerajaan Riau, kedudukan Tanjungpinang sebagai pusat pertahanan makin jelas ketika Riau bersiap menghadapi perang melawan Belanda (VOC) antara tahun 1782-1784. Benteng Riau di Tanjungpinang dan sekitarnya sangat berjasa dalam menahan serbuan armada Belanda ke pusat kerajaan Riau dan memaksa Belanda mundur ke Malaka.

Semenjak tahun 1784, Tanjungpinang mulai tumbuh sebagai sebuah tempat pemukiman dan kemudian menjadi sebuah kota yang juga berperan sebagai bandar dagang. Fungsi dan kedudukan sebagai pusat perdagangan menjadikan Tanjungpinang sebagai kota penting di Sumatra bagian Timur sesudah Medan san Palembang. Selain Tanjungpinang ditetapkan sebagai ibukota keresidenan Belanda untuk wilayah yang cukup luas, yaitu sampai kesebagian Sumatra bagian Tengah dan sebagian Sumatra bagian Utara. Pada tahun 1983, sesuai dengan peraturan pemerintah nomor 31 tahun 1983 tanggal 18 Oktober 1983 telah dibentuk Kota Administratif Tanjungpinang yang membawahi kecamatan Tanjungpinang Timur dan Tanjungpinang Barat.

Selanjutnya pada tahun 2001 sesuai dengan Undang-Undang nomor 5 tahun 2001 tanggal 21 Juni 2001, kota Administratif Tanjungpinang menjadi kota Tanjungpinang dengan membawahi 4 kecamatan yaitu Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kecamatan Tanjungpinang Barat, Kecamatan Bukit Bestari dan Kecamatan Tanjungpinang Timur.

Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠڤينڠ
—  Bintan Nuvola single chevron right.svg Kepulauan Riau  —
Lambang Kota Tanjungpinang  كوتا تنجوڠڤينڠ
Lambang
Slogan: Jujur Bertutur Bijak Bertindak
Lokasi Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠڤينڠ di Pulau Bintan
Kota Tanjungpinang terletak di Indonesia
Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠڤينڠ
Lokasi Kota Tanjungpinang
كوتا تنجوڠڤينڠ di Pulau Bintan
Koordinat: 1°5′0″N 104°29′0″E
Negara Indonesia
Hari jadi17 Oktober 2001
Pemerintahan
 • WalikotaH. Lis Darmansyah, S.H.
Luas
 • Total239.5 km2 (92.5 mil²)
Populasi
 • Total230.380 jiwa
 • Kepadatan804/km2 (2,080/sq mi)
Demografi
 • Suku bangsaMelayuTionghoaJawa,MinangBugis
 • AgamaIslamKristenBuddha
 • BahasaMelayuIndonesia
Zona waktuWIB
Kecamatan4
Desa/kelurahan18
Situs webtanjungpinangkota.go.id
Sebelumnya ibukota Kabupaten Riau Kepulauan.


sumber : http://www.tanjungpinangkota.go.id
READ MORE - Sejarah Kota TanjungPinang

Foto Tanjungpinang

1.Monumen perjuangan pahlawan nasional Raja Haji Fisabilillah



























2. Tugu Pensil Tanjungpinang





























3. Gedung DPRD kota tanjungpinang








4. Pelabuhan Sri Bintan Pura


















5. Patung seribu tangan












READ MORE - Foto Tanjungpinang

Asal Usul Nama TanjungPinang


Pada zaman dahulu, tersebutlah sebuah bandar kecil Anjang Luku di pantai barat Pulau Bintan. Konon disitulah tempat persinggahan Laksamana Hang Tuah, tatkala beliau berlayar dari Malaka Pulau ke Sungai Duyung Ulu Bintan, kampung halamannya.

Menurut yang empuhnya cerita, bandar kecil Anjang Luku itu banyak sekali ditumbuhi pokok pinang. Batang-batang  pinang itu berjejer di pinggir pantai, berseleret-leret sejak Tanjung Buntung hingga ke muara Sungai Bintan. Paling subur tumbuhnya berumpun-rumpun, disekitar cabang anak sungai yang mengalir dari bukit ke lembah. Tandanya di situ memiliki sumber air. Air itupun senantiasa mengalir, tidak pernah susut sekalipun musim kemarau.

Tidaklah mengherankan jika sesudah zaman Laksamana Hang Tuah itu pun bandar kecil Ajang Luku masih cukup ramai disinggahi orang. Ada yang berhenti untuk berlindung dari angin ribut yang tengah membadai, dan ada pula pelaut yang singgah mengambil air perbekalannya.

Lain halnya dengan Sultan Ibrahim dari Malaka. Baginda memanfaatkan bandar kecil Ajang Luku itu sebagai tempat perhimpunan para saudagar dan pedagang antar suku bangsa. Di situlah mereka berkumpul, baik saudagar dari Jawa, Bugis Makasar dan Minangkabau, maupun saudagar dari Melayu untuk bermusyawarah.

Oleh karena itu, penuh sesaklah pantai barat Pulau Bintan bagian selatan ketika itu. Beratus-ratus buah kapal-layar besar-kecil, seta sampan perahu beraneka ragam berlabuh di pantai Ajang Luku. Riuh-rendah siang dan malam. Karena ramainya orang. Ada yang sibuk memasak dan ada juga yang sibuk mengambil air minum di anak cabang Sungai Bintan. Sebagian mereka itu mencari kayu api di bukit-bukit, memasuki hutan belukar. Para saudagar, pedagang dan Sultan Ibrahim tengah sibuk mengadakan sidang. Permusyawaraan dilaksanakan di kembah-kembah, sengaja didirikan di tepi pantai.

Sultan Ibrahim pun bertitah “Wahai kalian saudagar. Kita hendaknya sepakat, menguasai pelayaran niaga. Perdagangan di perairan Malaka dan Selat Riau mesti berada di tangan kita”. Kata baginda lagi,”Kira jaga keamanan di Laut Riau secara bersama-sama, bahu-membahu sesama kita”.

Anjuran Sultan Ibrahim dari Malaka itu konon, disebut dengan “Mufakat Anjang Luku”, yakni tekad bersama untuk menguasai perdagangan di perairan Selat Malaka hingga ke Selat Riau. Yang disebut Selat Riau itu adalah perairan pantai barat Pulau Bintan dan lingkungan pulau-pulau Batam-Rempang-Galang atau disingkat “Barelang”.

Konon sepanjang pelayaran dari Selat Malaka hingga ke Selat Riau dalam abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-18 merupakan alur perdagangan kepulauan Nusantara. Daerah itu dikuasai oleh saudagar anak wathan: Jawa, Bugis, Minangkabau, dan Melayu sendiri. Orang Eropa pada zaman itu saja yang mengelari mereka “Perampok Lamun”, sebab orang asing yang tergabung dalam kompeni itu merasa cukup terhalang dan dihalang-halangi, untuk mengerut keuntungan sebesar-besarnya.

Menurut cerita, ketika itulah para pengikut dan pengiring saudagar yang mengadakan sidang mufakat di Ajang Luku, jika malam hari sibuk pula memasang api unggun. Hal itu mereka lakukan untuk menerangi lingkungan perkemahan pinggir pantai dengan menyalakan api. Cahayanya pun memancarkan terang-benderang. Begitu juga yang dilakukan oleh para pencari kayu bakar yang kemalaman hari di bukit-bukit. Api unggun dinyalakan sebesar-besarnya sebagai penghalau nyamuk, sekaligus merupakan sebuah isyarat. Mereka sedang kemalaman di hutan. Tidak sempat turun ke pantai untuk pulang ke perahu atau perkemahan. Sementara kayu api bertimbun-timbun akan dibawa pulang.

Berpekan-pekan pula lamanya, pantai dan bukit sekitar bandar kecil Ajang Luku itu terang-benderang setiap malam hari. Cahayanya berdendang kuning kemerah-merahan, kelihatan dari setiap penjuru. Tampak jelas dari arah karng-karang laut tempat para nelayan memancing dan melabuh jaring. Mereka itu pun bertanya-tanya, terutama nelayan yang belum sempat ke Ajang Luku beberapa pekan terakhir.

Nelayan itu bertanya kepada penjaring Cina yang bertempat tinggal di Senggarang bersebrangan sungai dengan Ajang Luku.

“Cahaya apa itu yang terang-benderang itu, Sobat?” Tanya mereka keheran-heranan,”Apa sobat tahu?”

“Pi-pei nang,” sahut penjaring Cina. Artinya api-api dinyalakan orang. “Pi-pei nang lho....” kata mereka berlidah pilat tionghoa.

“Oh... Pian pi-nang...,” sahut nelayan Melayu, berarti pantai pinang .
“Ehm... pian pi-nang,”gumam nelayan Melayu yang lain seraya menoleh kearah cahaya api yang terang-benderang itu. Kemudian berkata lagi,”Patutlah, disana banyak pokok pinang. Apakah ada orang membakar pokok-pokok pinang di pian Ajang Luku?”

“Tidaklah sobat,” kata tukang penjaring Cina seraya mengumbaikan jaringnya, “Pi-pei nang...”. maksudnya, bukan pokok pinang terbakar, tetapi api-api unggun orang ramai. Mereka ramai sekali datang bermukim di Ajang Luku, dan suka menyalakan unggun di malam hari.
“Oh... kalau ramai orang di Ajang Luku pi-pei nang itu... besok pagi kita sama-sama berjual ikan di Pi-pei nang”.

“yeak, kita ke pi-pei nang...” sahut para nelayan beramai-ramai.”Ke Pi-pei nang kita...” mereka pun bersorak-sorai. “Heh-houi... kita ke Pi-nang...”

“Ke Pinang?” Tanya nelayan yang berpapasan jalan. “Ehm... mereka akan ke bandar kecil yang banyak pokok pinangnya. Yeak, Ajang Luku bandar kecil berpadar pinang!” katanya dalam hati seraya merangkuh dayung-pendayung mengarahkan perahunya ke Pi-nang juga.
Sejak peristiwa itulah konon, para nelayan Cina menyebut bandar kecil itu “Pi-pei nang”, yang berarti “api-api orang”. Sementara orang Melayu menyebut “Pian-Pinang”, atau pantai pokok-pokok pinang. Karena terletak pada sebuah tanjung maka disebut “Tanjung Pinang”.


READ MORE - Asal Usul Nama TanjungPinang